Hari Kemerdekaan di Puncak Gunung Guntur

Gunung Guntur

Gunung Guntur

 

Semalam aku kembali ditanya seorang sahabat, Apa sih tujuan kamu mendaki Gunung ? pertanyaan ini bukan pertanyaan pertama yang aku dapat, dan selama ini aku tidak pernah bisa menjawabnya. Namun hari ini ketika mata baru terbuka, aku kembali tersenyum mengingat kejadian 3 hari lalu ketika mengibarkan Bendera Merah Putih di Hari Kemerdekaan pada Puncak tertinggi Gunung Guntur. Pagi ini akhirnya aku menemukan jawaban itu, apa tujuan kamu mendaki gunung ? “ di Gunung aku merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta, berada lebin tinggi dari awan, merasakan sentuhan dingin penuh cinta, mendengarkan bisikan angin bersenandung rindu, melihat semburat jingga Sunrise dan Sunset, di Gunung aku tidak menemukan orang munafik yang tega mengkhianati Negeri ini, yang ada hanya tentang keindahan dan kejujuran”. Dan pagi ini pula aku masih mengingat kejadian 3 hari lalu dan bercerita penuh air mata kebahagiaan.

15 Agustus 2014

Usai Azan Maghrib berkumandang ketika langit sudah mulai gelap, ketika hiruk pikuk warga Jakarta sudah semakin sibuk selesai bekerja seharian, suasana jalan Jakarta sudah berubah menjadi kawasan padat dan bising yang menemani perjalanan menuju Kampung Rambutan , karena hari ini untuk kesekian kali aku kembali mendaki Gunung, yaitu Gunung Guntur. Misi mendaki Gunung kali ini begitu beda, karena bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kami ingin mengibarkan bendera Merah Putih di Puncak tertinggi Gunung Guntur di Garut, Jawa Barat.

Gunung Guntur adalah sebuah gunung yang terdapat di wilayah barat Garut, Jawa Barat, depuncak 2ngan ketinggian 2.249 Mdpl. Gunung Guntur mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp atas, hutan Montane, dan Hutan Gunung. Gunung Guntur merupakan salah satu gunung berapi paling aktif pada dekade 1800-an. Tapi sejak itu aktivitasnya kembali menurun. Erupsi Gunung Guntur pada umumnya disertai dengan lelehan lava, lapili dan objek material lainnya.

Malam menjelang dini hari, aku dan tim yang berjumlah 11 orang sudah berkumpul di Kampung Rambutan dan siap menuju Garut sebelum memulai pendakian esok pagi. Malam semakin larut, dan pagi dini hari sekitar pukul 03:00 WIB perubahan udara dari panas kini berubah menjadi dingin, rasa dingin ini pula yang membangunkan dari tidur sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Garut sampai akhirnya Bus berhenti di SPBU Tanjung untuk menurunkan kami, inilah tempat terakhir sebelum pendakian itu dimulai.

16 Agustus 2014

Usai sarapan Bubur Ayam didepan SPBU Warung Tanjung dan mengecek kembali persiapan pendakian dan Logistik, kami mulai melangkah melakukan perjalanan diawali dengan menumpang truk pasir yang berfungsi sebagai satu-satunya transportasi mengantarkan kami sampai ke pos pertama sebelum benar-benar melangkah.

Tidak lama, sekiguntur 4tar kurang lebih 1 jam berada di truk setelah melewati ratusan kelokan dijalan dan goyangan truk dijalan rusak, sampailah kami dipemberhentian terakhir penambangan pasir. Aku lihat satu satu persatu pandangan mata teman-teman melihat tinggi ke Gunung Guntur yang sudah berdiri tinggi di depan mata kami, mungkin pertanyaan mereka dalam hati sama dengan yang aku punya saat itu,” itu benar jalur yang nanti akan kita lewati ?, itu benar jalurnya rumput semua ? ini sih lebih terjal dari Gunung Semeru”, pertanyaan itu sontak keluar ketika melihat warna warni Carriel Pendaki berjalan diatas sana.

Pagi Pukul 09:00 WIB, langkah kaki kami mulai berjalan dengan target melewati jalur Cities untuk memperoleh sumber Air terakhir persediaan untuk kami keatas puncak. Namun apa daya perencanaaan hanya tinggal rencana, rencana untuk melewati Curug Cities kandas karena kami melewati jalur lain, tidak melewati aliran sungai dan hanya terdengar suara air yang terus menjauh dan jalan yang terus menanjak dan menanjakIMG00467-20140817-0910. Hingga akhirnya aku memaksa dimas dan aldi untuk turun mengambil air untuk bekal diatas.

Tidak tinggi, Gunung Guntur memiliki ketinggian 2.249 mdpl namun jalur yang kami lewati terus nanjak dan menanjak diantara hamparan pasir dan kerikil sisa letusan. Tidak ada pohon tinggi, yang ada hanya rerumputan tidak lebih dari 1 meter, jadi pembaca bisa bayangkan sendiri bagaiamana suasana yang kami lewati siang itu. Panas, ngebul, lelah, ketiduran dijalan dan mata terus menatap keatas, serta kata-kata semangat yang terus terlontar diantara kami menjadi makanan untuk menemani selama kurang lebih 5 jam perjalanan sebelum akhirnya sampai di Puncak 1.

Puncak 1 adalah tempat tertinggi pertama yang ada di gunung ini, Karena di depan sana sudah terlihat Puncak 2 yang berdiri gagah dan membuat lemas kaki kami. Di Puncak1 juga sebagai base campnya para pendaki, karena memguntur 10punyai tempat luas untuk mendirikan tenda, dan tempat pas untuk menghindari angin. Di Puncak 1 ini terdapat beberapa Pohon tinggi sebagai pelindung dan tentu saja sebagai tempat untuk mengakhiri lelah.

Tetapi langkah kaki kami tidak berhenti disini, usai istirahat sebentar kami kembali melanjutkan perjalanan untuk melewati jalur terjal selanjutnya. Tidak lebih dari 1 jam kami sudah berada di Puncak 2, rasa lelah, haus dan mau pingsan terbayar sudah dengan keindahan kota Garut yang terlihat indah dari atas ini, disebelah kanan terlihat pemandangan Gunung Cikuray dan Papandayan, sementara dibelakang kami sudah menunggu Puncak 3 yang memanggil kami untuk segera menghampirinya. Namun kami putuskan untuk ngecamp di Puncak 2 dengan berbagai alasan.

Sore datang dengan ditandai semburat jingga bermunculan dari belakang tenda yang kami dirikan, dari sini pula pemandangan menjadi begitu romantis. Aku mulai menggelar matras dan duduk dengan segelas kopi ditangan sambil menyaksikan pemandangan langka ini, Sunset gunung Guntur begitu indah matahari terlihat bulat sempurna dihiasi warna jingga tepat diatas bukit.  Aku teringat akan kata Soe Hok Gie “Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku, setelah kita bosan hidguntur 1up dan terus bertanya-tanya, tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu”

Aku masih duduk termenung, menyapa Raja dunia sebentar lagi akan hilang, sementara itu kabut sudah mulai turun dan dingin sudah mulai terasa hingga akhirnya gelap benar-benar datang, setelah azan berkumandangan aku bersujud di kaki langit untuk bercerita dengan Sang Pencipta tentang kejadian indah yang baru saja terjadi dan mulut  tidak henti bersyukur.

Gelap semakin pekat dingin semakin menusuk ke dalam jiwa, kami mulai duduk bersama didepan tenda sambil menikmati malam dengan segelas teh hangat dan ditemani ribuan hamparan bintang begitu dekat diatas kepala kami, yang ada hanya canda tawa dan bercerita tentang pengalaman pribadi dengan guyonan segar untuk menghangatkan malam terindah entah kapan bisa kami nikmati bersama lagi ditempat ini.

Angga, Rita, Dewi, Yuni, Aldi, Dimas, Dinda, semua sahabat yang malam ini terasa begitu dekat bahkan sudah seperti saudara, bercanda dan tertawa ditengah kegelapan bersama dingin tanpa lagi memikirkan hari esok yang ada hanya malam ini, yah malam ini kita bersama, hingga akhirnya dingin benar-benar telah memaksa kami untuk masuk tenda dan segera tidur demi esok pagi lebih cerah.

17 Agustus 2014

Pagi pukul 05:00 WIB saya dan teman sudah bangun guntur 2akibat kerusuhan tenda yang mau rubuh, kejadian ini terjadi akibat kapasitas dalam tenda yang tidak terencanakan. Usai bersujud diantara kabut dan dingin yang  terasa khas, aku masih duduk diam didepan tenda diatas matras dan segelas kopi hangat. Aku duduk diam dengan pandangan mata menghadap ke arah timur untuk menyaksikan Sunrise di hari Kemerdekaan Indonesia dari tempat tertinggi ini, namun sayang hingga pukul 06:00 WIB matahari belum terlihat terhalang tebalnya kabut  menutupi kota garut, rupanya hari ini cuaca tidak bersahabat.

Dari bawah, tepatnya di Puncak 1 terdengar ratusan pendaki sedang melakukan Upacara, aku yang berada jauh diatas mereka hanya bisa mengikuti dari kejauhan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam hati, hingga akhirnya keajaiban datang tepat pukul 07:00 WIB. Matahari muncul dan menyinari hamparan gumpalan awan yang tepat berada dihadapan ku, ALLahguntur 7u Akbar … MERDEKAAAA sontak aku teriak sambil menghadap keatas langit, terima kasih Ya Allah sudah memberikan keindahan alam ini, inilah pemandangan terindah di hari kemerdekaan Negeri ini. Bagaimana tidak, gumpalan awan putih berada didepan mataku, diujung kanan terdapat gunung cikuray dan Papandayan berdampingan mesra diselimuti gumpalan awan yang nampak hanya kuncup puncaknya saja.

Rita mulai memasang Bendera Merah Putih dan bergantian kami mengibarkan benderanya, aku kibarkan bendera kebanggaan bangsa ini diatas puncak tertinggi diantara gumpalan awan dan udara dingin.. “ Merdeka.. Merdeka Negaraku, Merdeka Bangsaku … AKu Pemuda Bangsa Indonesia berjanji, untuk terus berjani menjaga negeri ini dari tangan Asing, aku berjanji untuk terus menjaga keindahan negeri ini dari mereka yang mau merusak, dan aku berjanji akan ikut serta memberantas orang-orang Munafik yang bilang cinta Indonesia tapi dia masih Korupsi dan masih memakan hak saudaranya. Negara ini harus benar-benar Merdeka … Dirgahayu Republik Indonesia ke-69. Terima kasih Indonesia ku”.

Tepat pukul 10:00 WIB usai foto bersama, berkemas dan membersihkan sisa sampah kami untuk dibawa turun kembali, kami mulai melangkah turun. Perjalanan turun di gunung Guntur ini tidak semudah seperti gunung lainya, kemiringan hampir 90 derajat membuat langkah kami harus hati-hati agar tidak tegelincirpuncak 4 dan masuk ke jurang.

Pelan tapi pasti, langkah setapak dan main perosotan dari puncak 1 menghiasi perjalan turun untuk mencapai curug cities yang kami lewati kemarin. Banyaknya pasir dan kerikil menghambat duduk merosot yang kami lakukan, karena sesekali batu besar mengganjal pantat belum lagi batu yang tiba-tiba bisa jatuh dari atas kalau tidak waspada tentu saja akan menghamtam kepala. Maka tidak mengherankan jika Anda mendaki gunung ini akan melihat banyaknya pendaki mengalami celana sobek dibagian pantatnya.

Selepas kumandangan Ashar, akhirnya kami sampai di pos terakhir penambangan pasir dan itu artinya kami telah berhasil keluar dari gunung Guntur dan berhasil melewati semua rintangan yang telah terjadi selama beberapa hari ini, senyum dan tawa diantara letih yang sudah menggerogoti menjadi obat paling mujarab sebelum akhirnya truk mengangkut kami sampai SPBU dan bersiap untuk kembali ke Jakarta.

Sungguh pengalaman luar biasa selama mendaki gunung Guntur, gunung ini memang hanya memiliki ketinggian  2.249 Mdpl jika dibandingkan dengan gunung Gede dan Papandayan kalah jauh, tapi jangan pernah menyepelakan ketinggian gunung ini selama Anda belum pernah mencobanya sendiri, bahkan banyak guyonan pendaki mengatakan selama diperjalanan “ Gunung Guntur adalah Mahamerunya jawa barat dan lebih sadis dari jalur gunung cermai yang sudah terkenal ekstrimnya” kalau tidak percaya coba sendiri.

“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” Soe Hok Gie

Inilah Indonesiaku dengan segala keindahannya, dan aku berjanji untuk terus menyusuri tempat inpuncak 5dah lainnya, menjaga dan menceritakannya kepada semua orang di dunia ini bahwa Indonesia memang Indah. Ingat jangan pernah meninggalkan sampah diatas gunung, karena gunung bukan tempat sampah.

 

Thanks to sobat :

Angga, Dimas, Doni, Alid, Rita, Yuni, Dewi, Dinda, Agung, Aldi dan saya sendiri Zay. Kita akan berjumpa lagi untuk perjalanan selanjutnya.

 

 

One thought on “Hari Kemerdekaan di Puncak Gunung Guntur

  1. Ping-balik: Indonesia Itu Indah, Sangat Disayangkan Jika Kamu Melewatkan Keindahannya Begitu Saja | tekOOO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s