Jelajah Pulau Air Biru

1231462_10202117281202360_2108482149_nLombok, pulau penghasil mutiara dan madu semakin maju dan mudah diakses. Berbagai perkembangan dan kemajuan menjadikannya para turis berdatangan demi menikmati keindahan yang ada di Pulau Lombok.

Sejak berdirinya Bandara internasional Lombok Praya pada tahun 2011, Pulau Lombok dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam dari Jakarta menggunakan Pesawat.

Bersyukur saya berkesempatan menikmati pulau air biru atau Lombok. Besarnya keinginan untuk segera menikmati keindahan, saya terbang pagi hari dari bandara Soekarno-Hatta. Dengan memegang erat tiket Garuda ditangan khawatir hilang dan berantakan jadwal liburan ini, saya sengaja mengambil tempat duduk di dekat jendela agar bisa melihat keindahan Lombok dari udara.

Dari kaca jendela terlihat langit menguning dan awan bercahaya berkat pantulan sinar matahari yang baru saja terbit. Ketika mendekati pulau dari kejauhan terlihat Gunung Rinjani, salah satu gunung tertinggi di Indonesia yang terkenal dengan keindahan danaunya terlihat angkuh berdiri. Gunung Rinjani menjadi impian saya sejak lama untuk mendakinya, dalam hati saya berdoa “semoga Allah mengabulkan do’a saya agar suatu hari nanti diberi kesempatan berdiri di puncaknya”.

2Setelah mendarat, saya melanjutkan perjalanan menuju Kota Mataram menggunakan mobil dengan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan. Kemarau sedang melanda pulau air biru ini dan terlihat jelas pemandangan sawah-sawah tandus, pohon-pohon kering dan tanah mulai retak. Sudah beberapa bulan hujan tidak turun.

Tidak mau menunggu lama, langsung tancap gas menuju salah satu destinasi menarik untuk dikunjungi yakni Gili Trawangan. Untuk menuju ke Gili Trawangan ada dua jalur yakni jalur pegunungan dan jalur menelusuri garis pantai. Dan memutuskan berangkat memilih jalur gunung dan kembali menelusuri garis pantai.

Dalam hati saya berkata “mustahil didekat pantai ada gunung”, namun keraguan saya terjawab, jalan berkelok-kelok dan kanan kini terdapat jurang serta di bagian atas terdapat tanah yang kapan saja bisa longsor. Perjalanan ini semakin menarik.

Ketika tiba di puncak pass, kendaraan yang membawa saya berhenti beberapa waktu untuk bercengkrama dengan kumpulan monyet liar yang terlihat jinak. Ditempat ini terlihat banyak gerombolan monyet dipinggir jalan menunggu ‘belas kasihan’ pengunjung memberikan makanan.

Perjalanan dilanjutkan menuju pelabuhan Bangsal. Menjelang tengah hari saya tiba di pelabuhan dan langsung membeli tiket seharga 15 ribu rupiah per orang. Berbagai perasaan berkecamuk di kepala, rasa takut tapi ingin mencoba hal baru, ketika melihat perahu kayu yang akan digunakan menyeberang ke Pulau Gili Trawangan. Sebenarnya di pelabuhan Bangsal ini kita bisa menyeberang ke tiga pulau yaitu pulau Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Namun yang paling ramai dan terkenal adalah pulau Gili Trawangan.8

Saat melakukan penyeberangan awan terlihat semakin gelap dan hembusan angin kencang semakin menjadi. Sesekali terdengar suara pemberitahuan bahwa perahu menuju Gili Trawangan masih kurang 5 orang lagi untuk siap berangkat. Entah berapa banyak penumpang yang akan diangkut untuk siap berangkat.

Cuaca semakin menakutkan, sebelum naik perahu, hujan turun dan ombak semakin besar. Diiringi doa, saya mulai naik perahu dan berangkat mengarungi samudera. Hujan semakin deras, ombak semakin besar dan perahu semakin kencang bergoyang. Saya hanya pasrah dan terus memanjatkan doa. Doa akan menjadi obat penenang.

Puji syukur, perahu berhasil berlabuh di pantai Gili Trawangan dengan selamat, dan hujan pun berhenti. Saat berlabuh keindahan pantai di Gili Trawangan sudah terlihat, pasir putih dan birunya air laut menarik cepat lengan saya untuk segera bergegas dari perahu dan berlari dipinggir pantai.

Suasana pulau ini 4begitu sunyi padahal ditempat ini terlihat banyak turis mancanegara yang sedang asyik berkumpul bersama teman-temanya menikmati pantai. Suasana pantai sangat berbeda ketika siang dan malam. Pada malam hari, pesta pantai banyak terlihat disepanjang pantai.

Suasana di pulau ini tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan pantai-pantai yang ada di Bali. Pantai Gili Trawangan dihiasi café-café di pinggir pantai, pasir putih yang bersih dan tidak ada pengemis dan pengamen disepanjang pantai. Suasana ini membuat pantai nyaman para wisatawan.

Pulau Gili Trawangan memiliki garis pantai yang panjang, air laut yang biru. Keindahan pantai semakin sempurna ketika sinar matahari semakin terik menyinari air laut, laut akan mementulkan warna terbaik. Birunya air laut semakin serasi berkat diramu dengan pasir putih, suasana ini menjadi lukisan terindah bagi setiap mata yang melihatnya.

Tanpa terasa dua jam sudah saya berada di pulau Gili Trawangan. Destinasi selanjutnya adalah pantai Senggigi. Dengan menelusuri garis pantai dan melewati jalur pegunungan di jalan berkelok-kelok dan naik turun untuk sampai ke Senggigi melalui jalur malimbu.

Saat berada dijalan tertinggi, cukup banyak kendaraan menepi dan berhenti di sepanjang jalur Malimbu, begitu juga dengan kendaraan yang saya gunakan. Jalur Malimbu terletak tepat di atas pantai Malimbu. Dari kejauhan pantai terlihat bersih dan air lautnya begitu tenang.

Dari ketinggian ini telihat pemandangan gunung tinggi dan dibawahnya dihiasi hamparan pantai berdampingan 3dengan pasir putih diantara hamparan pohon kelapa disepanjang pantai. Decak kagum dan bahagian melihat pemandangan di antara gunung terdapat Pantai dengan diteduhkan banyak rimbunan pohon kelapa. Kenikmatan semakin lengkap ketika dibarengi dengan menikmati air  kelapa yang cukup banyak di jajakan di bukit Malimbu ini.,

Pantai malimbu terlihat sepi karena memang belum dijadikan sebagai objek wisata oleh masyarakat setempat dan wisatawan masih lebih fokus berlibur ke Pantai Sengigi. Jika sempat singgah di Pantai Malimbu, Anda tidak akan menemukan penjaja makanan, turis mandi dan anak-anak kecil berlarian ditempat ini, yang ada hanya suara desir angin dan dedaunan kelapa yang berbisik merdu menyambut kedamaian pantai ini.

Sayang perjalanan harus berlanjut, dari Malimbu hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke Pantai Sengigi. Menjelang sore saya tiba di Pantai Sengigi. Suasana ramai terlihat, para pengunjung sedang asyik mandi di pantai, sementara perahu nelayan mulai bersandar setelah seharian mencari ikan. Untuk masuk ke pantai ini, pengunjung dikenakan tarif sangat murah yakni hanya seribu rupiah saja.

Pasir Pantai Sengigi berbeda d5engan Pantai Gili Trawangan, pasir pantai ini berwarna hitam.

Duduk santai di pantai dan bercengkrama dengan teman-teman serta menunggu matahari terbenam merupakan waktu tepat dan terbaik di pantai Sengigi. Ketika semburat jingga mulai menghiasi langit pantai, dan dihiasi perahu layar nelayan yang hilir mudik, menjadikan Senggigi menjadi salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan keajaiban alam bernama sunset. Para wisatawan sibuk mempersiapkan peralatan foto guna membidik sunset dan membuat foto siluet serta merekam keindahan pantai di Pulau Lombok ini.

Menjelang tenggelamnya matahari merupakan saat-saat terindah yang paling dinanti ketika berada di pantai. Saat itu langit berubah menjadi jingga, bulatan besar matahari mulai memerah turun ke dalam laut. Suasana ini menjadi waktu yang paling romantis untuk bercumbu bersama jingga, dan berpelukan dengan malam hingga gelap benar telah datang. Keindahan Pulau Lombok benar-benar telah menghipnotis saya dan ribuan wisatawan yang pernah berkunjung ke Pulau ini.

Inilah Indonesia, keindahan luar biasa yang selalu kurindukan untuk terus mengelilingi setiap sudut keindahan negeri ini. cintai, lestarikan dan beritakan ke seluruh dunia jika Indonesia adalah Surganya Dunia.6

2 thoughts on “Jelajah Pulau Air Biru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s