” Ada Cinta Yang Terlalu Di Gunung Prau “

Malam sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB dini hari, sambutan hangat Gunung Prau menyambut dengan hangat walaupun kami dapat merasakan bahwa diluar sana sangat dingin. Sementara Bus masih melaju dengan gerak lincahnya, melewati persawahan dan kebun penduduk yang ada disekitar jalan menuju kawasan Wonosobo.

niikLong Weekend libur Paskah merubah semua jalan menuju ke tempat wisata menjadi macet total tidak tertahankan, begitu juga keberangkatan kami menuju Gunung Prau ini. Saya dan Tim yang berjumlah 17 orang gabungan dari berbagai tempat di Jabotabek berkumpul dan berangkat dari Jakarta jam 20:00 WIB harus beberapa kali mengalami kemacetan, prediksi sampai Wonosobo jam 08:00 WIB molor menjadi pukul 13:00 WIB tepatnya dikawasan ALun-ALun Plaza Wonosobo.

Dari Plaza perjalanan dilanjutkan menggunakan carteran mobil pick up, dari sini mobil sudah melaju cepat dengan lincahnya bermain diantara kelokan jurang dan kabut yang mulai turun. Pemandangan menuju dataran tinggi Dieng adalah momen terbaik untuk di dokumentasikan, jalur perjalanan mirip kawasan puncak bogor ini lebih menyajikan pemadangan bak lukisan mahal dan udara dingin yang mampu menusuk tulang sampai paling dalam, dan pemandangan rumah-rumah penduduk dan tanaman sayuran disekitar dieng membuat semua itu IMG_20150317_232444menjadi Maha Karya yang luar biasa.

Gunung Prau adalah sebuah gunung yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng tepat di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung yang mempunyai ketinggian 2565 mdpl ini kerap dipandang sebelah mata oleh para pendaki, karena tingginya yang tidak seberapa, namanya pun seakan hilang tertelan dengan nama besar Sindoro Sumbing yang berdiri gagah tak jauh dari gunung prau ini.

Kata orang Panorama yang bisa di saksikan seperti gunung slamet di sebelah barat dengan keindahan Sunsetnya gunung prau dieng, sebelah timur pegunungan di jawa tengah seperti gunung sindoro, gunung merbabu, gunung merapi, gunung unggaran, gunung telomoyo, gunung tlerep, gunung kelud, dan bukit batok di kaki lereng pegunungan prau tersebut. Di atas puncak gunung prau inilah sering di jadikan tempat  untuk hunting spot GoldenSunrise Prau yang spektakuler selain menikmati golden sunrise sikunir.

Istrirahat sejenak di Pos Gunung Prau di Diesan Dieng Kulon, kemudian Selepas Maghrib saya mulai memakai cariel, mengencangkan tali ikatan sepatu, menyalakan head lamp dan mulai melangkah melewati jalan setapak menuju Puncak diatas sana. Perjalanan dimulai melewati tanaman sayuran petani dan beberapa makam yang ada disekitar kaki Gunung Prau, dengan lincah saya dan tim mulai berlari kecil dan berharap sampai puncak sebelubb p 28m pukul 22:00 WIB untuk dapat menyaksikan malam yang katanya begitu indah di Gunung ini.

Malam semakin larut, dan pemadangan sudah berubah menjadi gelap. Hanya terlihat jarak pandang  dihasilkan dari head lamp yang saya gunakan, sesekali saya menarik nafas dan duduk beristirahat setelah lelah menanjak jalur dengan kemiringan hampir 90 derajat, sementara dingin semakin menjadi ketika kabut turun ditemani rintik hujan mulai membasahi baju, namun semua itu tidak membuat langkah saya surut untuk terus melaju.

3 jam berlalu setelah melewati tanjakan, turunan dan jalan licin, saya sampai di Pos Repeater milik TNI dan pemerintah setempat, jika Anda naik Gunung Prau melalui Jalur Desa Dieng Kulon maka Pos inilah penanda sebelum sampai ke Puncak. Dari Pos Repeater ini pula saya sudah bisa menyaksikan keindahan bulan dan hamparan bintang yang terlihat begitu dekat diatas kepala, ditambah kerlap-kerlip lampu rumah penduduk dibumbui asbb p 7ap kawah dan bukit-bukit kecil disekitaran dataran tingg dieng,membuat langkah saya berhenti sejenak takjub dan mengucap luar biasa untuk Indonesia yang begitu indah.

Tepat pukul 22:00 WIB sesuai prediski saya dan tim dari awal, kami tiba dipuncak paling tinggi dikawasan Gunung Prau ini, kata orang tempat ini adalah spot terbaik untuk menyaksikan Golden Sunrise. Ditemani pekatnya malam, hembusan angin dan dingin yang semakin menusuk tulang-tulang,saya dan tim berlomba melawan semua itu dengan gerak cepat memasang tenda dan sebagian teman memasak kopi untuk menghangatkan tubuh yang sudah mulai terserang dingin.

Pukul 23.00 WIB saya dan tim mulai istirahat dengan memasang alarm pukul 04:00 WIB untuk melihat perubahan langit dari malam menjelang pagi, konon katanya pada jam tersebut langit terlihat lebih cerah dan hamparan bintang terlihat lebih terang. Dan benar saja, pukul 4 pagi saya terbangun keluar tenda memandang langit cerah ditemani hamparan bintang dan bulan yang terlihat tersipu malu ketika mata tajam ku tidak lepas memandanganya, tidak menunggu lama kamera langsung terpasang di Tripod dan mulai menjepret pemandangan malam yang begitu menakjubkan sambil menunggu Golden Sunrise yang mulai terlihat jingga dilangit bagian timur.

Tepat pukul 04:30 selepas azan shubuh, langit semakin jingga dan perlahan matahari mulai muncul malu-malu melihat saya dan teman-teman yang sudah berdiri menyaksikan raja dunia untuk terbit menyinari Dunia ini. Langit begitu pekat berwarna merah jingga dibalur warna biru muda disekitarnya, sementara kabut tipis mulai menghilang dan awan mulai terlihat berada dibawah kami, dikejauhan Nampak gagah gunung Sindoro dan Sumbing tertutup awan dibagian puncaknya, dibagian bawah terlihat ratusan rumah penduduk begitu damai dan tenang, tidak ada aktifitas tidak ada suara, yang ada hanya suara angin dan kicauan binatang pagi yang begitu indah dan terdengar romantis bak rayuan pemuda ditelinga kekasihnya.bb p1

Pukul 06:00 WIB. Matahari semakin tinggi, suasana sekitar puncak Gunung Prau mulai terlihat secara sempurna, hamparan padang sabana atau yang terkenal Bukit Teletubbies sudah terlihat luas dimata saya. Pada momen seperti ini adalah waktu tepat untuk berkeliling bersama kamera ditangan. saya mulai melangkah menyusuri padang Sabana dan menghampiri bukit tertinggi yang menutupi sebagian tubuh Gunung Sindoro dan Sumbing, rasa penasaran ini begitu kuat dan ketika sampai dipuncak tertinggi kedua kaki saya kaku, tangan saya lemas, mulut saya takjub dan terus berucap tidak percaya dengan pemandangan dihadapan saya saat ini, dua gunung cantik Sindoro dan Sumbing berdiri berdampingan dan dibagian puncaknya diselimuti awan seperti salju yang sudah mencair, sementara diujung jurang terlihat banyak tenda dan ratusan pendaki lainnya yang sedang asyik menikmati pagi sambil ngopi dan bercanda memandang Gunung yang bersahabat ini. “ Ada Cinta yang Terlalu” begitu saya menyebutnya, sungguh cinta ini terlalu kuat dan jauh menusuk hati terdalam melihat pemandangan luar biasa ini, jika Anda pernah melihat Pegunungan Alpen maka Gunung Prau ini menurutku lebih indah karena ini milik kita bangsa Indonesia.

Dari tempat camp inilah semua keindahan Gunung Prau terletak, dan dari tempat inilah saya sulit sekali untuk beranjak, sampai akhirya Bang Aang, Tommy, Yuni, Rita, dan yang lainnya menarik paksa untuk beranjak kembali ke tenda untuk sarapan dan bergegas turun.

Gunung Prau adalah keindahan tersembunyi yang tidak bisa dinikmati semua orang, karena butuh perjuangan untuk sampai keatasnya dan menyaksikan semua itu, oleh karena itu untuk semua pendaki dan pengunjung lainnya jaga keindahan dan alam di Gunung ini, bawa kembali sampah-sampah dan tidak merusak alam. Sangat disayangkan jika keindahan yang tidak dimiliki Negara lain ini akan rusak dan tidak bisa diwariskan ke anak cucuk kita nantinya.

Inilah Indonesia, dengan ribuan keindahan dan keragaman budaya yang harus kita jaga. Dan saya berjanji untuk terus menyusuri keindahan lain, menjaga dan menceritakannya kembali sebagai warisan dunia yang harus kita lestarikan. Aku Cinta Indonesia. (18 – 20 April 2014)

Thanks To :

Bang AAng, Rengga, Tommy, Morris, Dave, Yuni Rina, Rita, Aldo, Tejo, Joko Fauzi Baadila, Tarso, Astria, Steven,

11 thoughts on “” Ada Cinta Yang Terlalu Di Gunung Prau “

  1. Keren…….bener kata Mas Morris, baca tulisan ini lgsg kangen moment pas di sana. Kangen canda tawa n kebersamaan waktu di sana aaaagggghhhh……ayo kapan kita kemana “lagi”🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s