Melihat Lebih Dekat Istana Siak

1231462_10202117281202360_2108482149_nHujan deras yang turun membasahi kota Pekanbaru membuat suhu udara menjadi dingin, namun Bandara Sultan Syarif Kasim II yang baru saja selesai dibangun ini membuat semuanya menjadi hangat.

Kedatangan ke Provinsi Riau menjadi perjalanan pertama saya ke kota makmur yang kaya akan hasil alamnya. Riau yang belakangan ini sedang heboh dibicarakan warga Singapura karena kiriman asapnya ini, merupakan salah satu provinsi paling banyak pohon sawitnya selain hasil bumi yang melimpah.

Kedatangan saya memang tidak sekedar untuk travelling, tapi ada pekerjaan yang harus dikelarkan sebelum berangkat ke Istana Siak yang sudah saya rencanakan sejak ada perintah berangkat ke Riau. Akhirnya 2 hari cepat berlalu, bosan dengan suasana kota Pekanbaru yang sudah dilewati selama dua hari,  saya memutuskan untuk pergi ke Istana Siak sekarang juga.1176239_10202117291362614_122719229_n

Siak adalah sebuah kabupaten di Provinsi Riau yang dulunya merupakan pusat kesultanan Islam terbesar di Riau yaitu Siak Sri Indrapura. Warisan kebesarannya pun hingga kini masih nampak di berbagai sudut kota. Sejarahnya yang panjang telah meninggalkan warisan peradaban Melayu yang mengagumkan dan pantas dibanggakan Indonesia.

Untuk menuju ke Siak membutuhkan waktu 3-4 jam dari kota Pekanbaru. Perjalanan panjang melewati ribuan hektare pohon sawit menjadi cerita terbaru untuk saya dalam menuliskan keindahan kota yang kaya dan makmur.

Yang menarik dan membuat saya bahagia, akhirnya saya berhasil melihat sungai Siak yang terkenal dan menjadi jalur transportasi yang dulu banyak digunakan oleh warga disini, sebelum adanya Jembatan Siak yang baru saja diresmikan Oleh Presiden SBY.

1175520_10202117285722473_2090286429_n3 jam berlalu, letih dan mual diperut terbayar sudah ketika melihat Istana Siak sudah Nampak di depan mata. Sejarahnya Istana ini bernama ” Istana Matahari Timur ” atau disebut juga Asserayah Hasyimiah atau ini dibangun oleh Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 oleh arsitek berkebangsaan Jerman. Arsitektur bangunan merupakan gabungan antara arsitektur Melayu, Arab, Eropa. Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan disamping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga digunakan untuk ruang pesta. Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu Istana.

yang perlu Anda kunjungi jika berkunjung ke Kota ini, jangan lupa melihat Makan Raja Syarif Khasim yang terletak di pinggir Sungai Siak tidak jauh dari Istananya, bentuk bangunan makam yang berbentuk seperti masjid ini menjadi tempat menarik dan bagus untuk di Dokumentasikan.1184835_10202117292922653_1966006153_n

Belum ke Siak jika tida mencoba durennya, duren di Kota ini sangat luar biasa enaknya. Jadi sayang sekali jika berkunjung ke Provinsi Riau tidak mencoba semua itu, walaupun perjalanan singkat saya ini tidak berhasil mengunjungi tempat wisata lainnya yang ada di Riau yaitu Bono, namun saya sudah bersyukur bisa sampai ke Istana Siak.

Indonesia ini Indah selain mempunyai ribuan tempat wisata, Indonesia juga mempunyai ratusan peninggalan kerajaan yang tersebar di Seluruh penjuru Nusantara, serta ribuan sejarah yang harus tetap kita lestarikan.

Kunjungi dan jaga Aset besar wisata di negeri ini. AKu Cinta Indonesia.

(3-6 September 2013) Z

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s