Nyanyian Merdu Gunung Merbabu

229836_10200303854667830_1440861857_nPerlahan Bus sudah berjalan dan meninggalkan Terminal Giwangan di Jogjakarta ini. Canda tawa dan kemeriahan yang sudah aku alami bersama 9 orang teman selama 4 hari ini telah berubah menjadi rasa lelah, sementara jalan panjang masih menunggu kami untuk sampai jakarta setelah beberapa hari ini kami berada di gunung merbabu.

“men..gimana merbabu kemarin” aku mulai membuka obrolan kami untuk menceritakan bagaimana serunya petualangan kemarin.  Dimulai hari itu sabtu 22 desember 2012 petualangan kami pun dimulai. Sedikit demi sedikit aku mulai mengumpulkan rekaman dalam otakku tentang petualangan yang baru saja terjadi.

Hujan masih turun menemani perjalan pulang kami, sehingga mengingatkan hujan yang setia menemani dari jakarta hingga salatiga. Hari itu Hujan dengan setia menemani perjalanan kami melewati kota-kota indah di Indonesia. Setiap bunyi rintik dan dinginnya berhasil menjadi obat tidur paling mujarab hingga tak terasa kernet membangunkan kami untuk segera turun di salatiga. Aku ingat hari itu, waktu masih menunjukkan pukul 3 pagi.

Perjalanan kami tidak berhenti sampai Salatiga, tetapi inilah awal dari perjalanan untuk menuju Gunung merbabu via jalur wekas. Dari sini melanjutkan dengan mencarter mobil dan kembali melanjutkan dengan mencarter kembali sampai ke pos pendakian.

Kabut tipis mulai turun mulai menyapa kami, aku lihat waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Perjalanan yang ringan semakin terasa berat, ketika langkah kami harus berpacu melawan kabut yang semakih tebal dan rintik gerimis yang mulai turun. Inikah sambutan Gunung Merbabu menyambut kedatangan kami. Aku hanya berteriak kepada teman-teman “inilah nyanyian merdu gunung merbabu kawan”.

Dengan susah payah pos 1 berhasil kami lewati. Jalur pendakian via wekas ini mengingatkanku akan jalur Gunung cermai via linggar jati, atau jalur Gunung Gede via gunung Putri. Jalur menanjak tanpa bonus ditambah gerimis dan kabut tebal, membuat petualangan ini benar-benar mengesankan.

Pukul 11 pagi kami tiba di Pos 2, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di camping ground ini. Kabut masih saja terus menyapa kami, ditemani hujan yang semakin deras sehingga memaksa untuk membangun tenda ditengah guyurannya yang lebat. Kami tidak lagi memikirkan baju yang sudah basah, atau perut yang sudah keroncongan yang penting tenda berdiri dan langsung makan.

Malam sudah hadir dengan segala ceritanya, segumpal kabut mulai memasuki setiap celah dari tenda yang terbuka. Aku masih duduk sambil menghisap rokok yang tinggal sebatang dan ditemani segelas kopi. Sesekali gadis-gadis berlalu di depan kami untuk mencuci peralatan makan mereka. Angin lembut terasa menaikkan bulu roma, inilah suasana gunung yang selalu dirindukan para pendaki. Dingin semakin terasa, aku lingkarkan selimut untuk sekedar menghangatkan tubuh yang dari siang sudan kehujanan, dan mulai bermimpi bersama merbabu malam ini.

Pagi sudah datang, kabut masih belum juga sirna. Perut yang sudah diisi dengan roti bakar dan nasi goreng sudah mulai terasa lapar, sementara jalan menuju puncak harus segera dilanjutkan. Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan kabut tebal dengan jarak pandangan 1 M, pendakian ini semakin menantang dan membuat kami lebih extra hati-hati.

Pukul 10 pagi, perjalanan kami lanjutkan dengan menapaki satu persatu jalan setapak yang becek. Sesekali teman-teman membantu membantu menarik tanganku ketika melewati jalur yang tinggi. 1,2 sampai 3 jam perjalanan puncak masih belum terlihat. Muka letih dan mau pingsan mulai terlihat satu persatu diwajah teman-teman. Uma, Ucup, Doni, Andri, Evan, Andre, Alif, donat, pohan dan aku memutuskan istirahat sebentar.

Pukul 2 sore puncak berhasil kami rengkuh dengan rasa letih yang berhasil kami panggul. Inilah puncak kenteng songo yang berbentuk tanah lapang dengan ciri khas batu berlubang dibagian tengahnya, menjadi puncak dari perjalanan kami setelah melewati berbagai rintangan dan jalur terjal dengan kanan kiri jurang.

sore datang dengan kabut tipis yang mulai menutupi puncak kenteng songo. Seperti berburu waktu untuk tiba dibawah sebelum gelap, kami mulai bergegas meninggalkan puncak dan berlalu menuju bawa via jalur selo. Disinilah petualangan sebenarnya dimulai, dari informasi yang didapat kalau jalur Selo ini tidak ada sumber air, membuat kami terus berlari dan berlari.

Hujan terus turun dengan derasnya, keindahan jalur sabana 1 dan 2 tidak lagi mengalihkan pandangan kami untuk melihatnya, yang kami pikirkan adalah menemukan air secepatnya dan tiba sampai dibawah sebelum gelap. Akibat hujan deras inilah jalur menjadi licin, dengan perlahan kami menuruni jalur yang menurun, tidak heran jika diantara kami sering terjatuh dan untungnya tidak selalu berakibat parah.

Gelap sudah datang dan malam sudah cukup dingin, sementara hujan masih setia menemani .”yang punya senter sekarang dikeluarin, dan ingat jangan sampai ada yang terpisah perhatikan teman-teman masing-masing” teriak ku mengingatkan ke teman-teman.

Aku yang dari tadi tersenyum didalam mobil, tiba-tiba kaget oleh ulah ucup yang memukul kepalaku” kenapa lo men”tanya dia. “lo inget gak pas Evan gag bisa turun, padahal kakinya udah menggantung dan berusaha mencari pijakan, itu menurut gw kejadian lucu tapi seram juga. Gw gag bisa bayangin seandainya dia jatuh hari itu dan tergelincir ke jurang. Untung pohan dengan sigap membantu dia turun”.

“Wkkk iyah itu lucu, tapi loe inget gag pas ada yang mau naik keatas dan kita tertawa lepas karena melihat jalur licin dan terjal yang baru kita lewatin, dan kita gag bisa bayangin bagaimana mereka naik nanti, udah gitu airnya kita habisin lagi..hahaha”ujar ucup gag mau kalah.

“itu sih biasa..loe ingat gag pas si zay jalan didepan gw, dia jatuh telak banget sampai bunyi kedebug, itu senter sama cariel sampai kotor banget..hahaha”ucap si donat yang iringi tawa semua orang.

Sepanjang jalan turun adalah petualangan sesungguhnya, hujan deras, baju basah, kabut tebal, jalan licin, tidak ada air dan hari semakin gelap membuat kekompakkan kami teruji, dan tidak heran sesekali terjadi keributan kecil dalam berpendapat.

Pukul 9 malam, lampu rumah penduduk menyapa kami dengan senyum terbuka. Rasa letih dan haus berubah menjadi kegembiraan yang tidak terhingga. Disinilah akhir dari petualangan panjang pendakian gunung merbabu akan berakhir, dan pasti akan kami rindukan semua pengalaman yang baru saja terjadi.

Bus masih terus melaju, dari kaca jendela aku lihat sekarang sudah sampai garut dan mungkin sekitar 6 jam lagi sampai jakarta. Bayangan akan indahnya gunung merbabu masih terbayang indah dihadapanku. Inilah Indonesiaku, negeri terindah di dunia yang memiliki ribuan tempat wisata dan petualangan terlengkap, dan aku berjanji tidak akan pernah berhenti untuk terus mengunjungin dan menceritakan keindahan Negeri ini. Aku bangga jadi orang Indonesia.

Rasa letih benar-benar telah membunuhku, aku lihat teman-teman yang lain pun sudah terlelap. Aku mulai memejamkan mata dan bermimpi kemana akan ku pijak petulangan selanjutnya.

One thought on “Nyanyian Merdu Gunung Merbabu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s