Diskusi Pagi Dengan Alam Di GunungKidul

Gerbang Selamat datang

Gerbang Selamat datang

Rasa letih masih sedikit terasa, sambil duduk dipinggiran mulut Goa saya berdiskusi dengan Tyo tentang banyak hal. Kami bersembunyi di bayang pohon yang meneduhkan dari sengatan matahari, dan bibir terus berucap syukur melihat keindahan alam yang sedang kami nikmati saat itu.

Jum’at pagi bulan November lalu, kami memandang jauh ke sekeliling Goa Pindul di Desa Bejiharjo Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Goa Pindul, tempat wisata yang menawarkan wisata air. Padahal semua orang tahu bahwa Gunung Kidul termasuk kawasan panas dan tandus. Ketika itu saya terpikir, begitu besar kemauan penduduk sekitar untuk membangun daerah wisata tanpa bantuan pemerintah.

Desa Bejiharjo memiliki sumber air bersih melimpah, tidak seperti umumnya daerah di Kabupaten Gunung kidul yang mengalami persoalan keterbatasan sumber air bersih. Desa ini memiliki pasokan air bersih setiap saat. Air bersih mengalir sampai ke permukaan dari sumber mata air bawah tanah mereka.

Potensi alam ini memicu keinginan warga desa Bejiharjo untuk menjadikannya pusat wisata air dan berharap Kabupaten Gunung Kidul terhindar dari kekurangan pasokan air bersih.

Pintu Terakhir

Pintu Terakhir

Goa Pindul kini menjadi tempat wisata petualangan yang sedikit memacu adrenalin. Tapi jangan khawatir, pemandu wisata siap melayani setiap wisatwan menyusuri sungai yang ada di dalam goa.

Namun, Desa Bejiharjo bukan hanya kaya akan potensi alam, mereka juga mempunyai kekayaan budaya, sejarah dan edukasi. Desa ini memiliki peninggalan budaya di bagian timur desa bernama situs Sokoliman. Sebuah situs purbakala terkait sejarah manusia purba. Di desa ini juga berdiri Monumen Jenderal Soedirman.

Untuk menjaga daerah wisata air bernama Goa Pindul tetap berkualitas, sekelompak masyarakat yang memiliki kesadaran dan kemauan mengolah dan mengembangkan Desa Bejiharjo menjadi desa tujuan wisata,  membentuk kelompok sadar wisata bernama “DEWA BEJO” (Desa Wisata Bejiharjo).

Rasa takjub dan bingung terus berputar di kepala. Saya seakan tidak percaya kalau alam yang sedang kami injak adalah kawasan Gunung Kidul Yogyakarta, daerah yang selama ini terkenal tandus dan kekeringan. Desa ini mempunyai air yang melimpah, bahkan menawarkan wisata air. “Jadi daerah Gunung Kidul mana yang terkenal tandus dan kering.” Saya memulai obrolan bersama Tyo dengan membayangkan seandainya masyarakat di luar sana mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya di sini. Aku ingin sekali bercerita kepada mereka tentang Indah dan sejuknya alam di sini, dan tentu saja dengan air bersih yang begitu melimpah.

Sepanjang perjalanan memasuki kawasan Desa Bejiharjo, kami disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Begitu beragam pepohon tersaji P1050030di kanan kiri sepanjang perjalanan dan terlihat begitu ramah penduduk desa yang mencirikan masyarakat Indonesia. Saya sampai tidak bisa bicara banyak, tapi dalam hati berfikir tentang mereka. Sahabat-sahabat itu dengan teguh terus berjuang menjaga ekosistem air dan melestarikan daerah wisata ini yang sudah dibangun dengan susah payah.

Pandangan mataku terus mengamati satu persatu penduduk asli setempat. Mereka memperlihatkan raut muka bersahaja kepada setiap pengunjung yang datang. Bahkan tidak segan-segan sesekali mereka memberikan informasi tentang wisata apa saja ada.

Walaupun terdengar samar-samar, namun angin membawa suara ke telingaku, dengan jelas dia mengatakan kalau di desa Bejiharjo ini punya wisata air yaitu mengarungi sungai (arum jeram), menelusuri Goa dan danau yang akan menyediakan pemancingan dan sarana permainan air lainnya.

Senyumku semakin dalam dan berusaha melawan kata “tidak” dari apa yang sudah saya dengar tentang tentang Gunung Kidul selama ini. Saya coba telusuri alam pikiran dan mengkaji lagi, bagaimana caranya air Goa Pindul di Gunung Kidul ini bisa mengajak petani untuk kembali bertani tanpa kekurangan air, mengubah anak muda pengangguran menjadi berpenghasilan, dan tentu saja

diharapkan bisa memberikan nafkah baru yang lebih besar dari dulu bertani dan dulu harus pergi ke kota dan meninggalkan desa kelahiran. Air benar-benar telah memberikan banyak keberkahan di desa ini.

Cipratan air dari mulut Goa mulai membasahi wajahku, pembicaraan kami berlanjut pada pekerjaan yang begitu besar yaitu menjaga agar air di sini tetap bagus dan bisa dimanfaatkan. Tentu saja hal itu tidak bisa dilakukan sendiri. “seandainya pemerintah mengetahui dan mau memberikan modal agar bisa lebih mengembangkan wisata di sini yah Yo,

Dalam Goa

Dalam Goa

pasti wisata ini akan lebih bagus dan semua orang di sini akan menjadi mandiri dan berpenghasilan. Mereka pasti enggan meninggalkan tempat kelahirannya ke kota untuk mencari nafkah. Bagaimana tidak, dari wisata air Goa Pindul semua orang sudah kebagian rejeki naik itu tukang ojek untuk mengantarkan ke tempat wisata, penduduk sekitar yang menjadi pemandu, dan penjaja makan”.Diskusi ini kami jalani entah untuk apa, mungkin karena jiwa sudah lelah melihat semrawutnya negeri ini atau atas dasar kecintaan pada alam Indonesia yang memang sebenarnya indah jika dikelola dengan baik dan benar.

Sebentar lagi saya akan merasakan pengalaman mengarungi Goa yang dipenuhi air tanah yang jernih. Perlahan kaki mulai masuk ke dalam air, ban karet pun sudah dikenakan. Sembari mendayung dengan tangan, saya mulai menelusuri Goa dan terpampang pemandangan jernih air tanah yang memukau sampai ke dasar sehingga sesekali pandangan mataku melihat ikan yang berlalu lalang di dalamnya.

Goa Pindul ini memiliki panjang sekitar 350 meter yang terbagi menjadi dalam tiga zona, yaitu zona terang, zona remang, dan zona gelap abadi. Wisatawan tidak perlu khawatir menelusuri goa yang memiliki lebar hingga 5 meter dengan jarak permukaan air ke atap gua sekitar 4 m, dengan kedalaman air sekitar 5-12 meter.

Di dalam Gua Pindul, terdapat stalagtit yang menyatu dengan stalagmit sehingga membentuk sebuah pilar berukuran besar, jika ingin memeluknya membutuhkan lima orang untuk melingkarinya. Selain itu terdapat stalaktit terbesar keempat di dunia dan bentuk menyerupai tirai tersusun buatan tetesan air di dinding Goa.

Sungguh besar manfaat air di desa ini. Selain digunakan untuk minum dan mandi, ternyata air di sini juga mendatangkan rejeki yang banyak untuk penduduk sekitarnya. Sekarang aku baru sadar “dimana ada air mengalir, disitu pasti ada sumber kehidupan”. Dan tidak salah kalau air itu adalah sumber kebutuhan manusia paling vital atau penting dan patut dijaga. Coba bayangkan jika tidak ada air di sini, maka tentu saja tidak akan ada wisata air, tidak akan ada petualangan basah (rafting) yang menakjubkan.

Terima kasih Desa Bejiharjo, Gunung Kidul, Yogyakarta yang menawarkan wisata air yang luar biasa  dan mengajarkan kami betapa pentingnya air.  Saya ingin berpesan “pergunakan air seperlunya, jaga alam ini untuk generasi selanjutnya. Indonesia itu indah kawan, di sini tempat kita makan dan minum, tempat kita dilahirkan dan mencari nafkah. Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikan, siapa lagi”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s