Ada Cerita di Gunung Papandayan

sayup-sayup terdengar azan shubuh berkumandang, sementara dingin masih menyelimuti suasana jakarta yang seminggu belakangan ini turun hujan, ditambah sekarang adalah hari pertama libur panjang selama 4 hari, aktifitas yang asyik adalah tarik selimut dan tidur lagi. Tapi sekarang adalah waktunya packing dan siap berangkat menuju Gunung Papandayan.

Pukul 8 pagi, Bulay sudah datang membawa semangat 45 dengan cariel tinggi di punggung. Sementara aku yang masih bingung mau bawa apa, akhirnya memutuskan untuk bawa peralatan seadanya dengan tidak melupakan baju hangat untuk melawan dingin, dan baju pengganti jika kehujanan disana.

“gimana lay, berangkat kita” tanya ku

“lanjut zay”

Pukul 10, kami mulai berangkat dari terminal kalideres menuju Terminal kampung rambutan. Mata kami terus mengamati bus satu persatu, untuk mencari bus bertuliskan Kp Rambutan. Kami melakukan Ekspedisi yang tidak biasa sebenarnya, kami sangat tidak tahu dimana letak pasti gunung papandayan itu berada, dan menggunakan angkutan apa untuk kesana. Berbekal informasi yang terbatas dari internet dan cuaca yang sedang tidak menentu, membuat perjalanan ini semakin menarik dan ingin membuat Papandayan bercerita.

“lay itu busnya, ayo kejar”

Dengan susah payah, bus berhasil kami dapatkan. Tidak lama Kernet dengan asyik menggerak-gerakkan tangannya ke arah kami, kernet yang tidak terlalu tua ini selalu sibuk memainkan hapenya, tidak memperdulikan banyak penumpang yang mencari bangku, bahkan sesekali dia ribut dengan penumpang hanya karena maslaah ongkos kurang.

“bang kalau mau ke garut, naiknya dari mana yah” tanya ku

“nanti turun aja bang di pasar rebo, dari situ banyak” jawabnya

“oke siapp..makasih yah bang”

1 jam berlalu, Pasar rebo sudah terlihat. Kami turun dan mulai mencari dari deretan bus yang sedang ngetem di depan pasar buah.

“garut, garut…”teriak kernet

“lay itu busnya…yuk samperin”kata ku

Bus yang sudah tidak muda lagi ini menjadi pilihan terakhir untuk kami tumpangi, rasa tidak tahu dan belum mengerti medan perjalanan menuju Garut membuat kami asal pilih, dan berharap tidak akan terjadi apa-apa selama diperjalanan.

Penuh sesak dan bau keringat dari penumpang mulai menyengat, sementara Bus masih belum bergeser sedikit pun dari tempat pertama aku lihat. 10 menit, 20 menit dan akhirnya setelah menunggu 30 menit, Bus dengan gontai pergi meninggalkan jakarta.  Dengan ongkos 35 ribu, bus ini akan membawa kami menuju garut.

Bekasi, Cikampek, Padalarang, Bandung dan cileunyi berhasil dilewati dengan sempurna, walaupun hujan dengan setia mengikuti kami dari Bandung, tidak menghalangi Bus tua ini untuk terus melaju menuju Terminal Garut. Tetapi sesuatu yang tidak diduga datang, tiba-tiba bus oleng, perlahan bunyi mesin terdengar tidak beraturan, seperti orang menghembuskan nafas terakhir, perjalanan semakin lambat, sementara hujan masih terus turun dengan sesekali petir menemani. Dan bessss…bus tua ini mati mendadak di kawasan leles, diantara kanan kiri jurang yang siap memakan dengan lahap, jika saja bus ini terguling.

Hujan masih setia menunggu kami dalam bus tua yang sedang sekarat. Satu persatu penumpang turun dari mobil dan berteduh diwarung yang ada dipinggir jalan. Aku yang serius mengamati supir dari kaca jendela, mulai memperhatikan tangan-tangan lincahnya mengutak-atik mesin, entah apa yang sedang dia lakukan.

Alhamdulillah Cuma 30 menit Bus ini sudah hidup dan melanjutkan perjalanan. Pukul 5 sore, bus sampai di terminal Garut. Dengan langkah gontai dan kepala pusing, aku mulai memandang kesegala penjuru, menyaksikan suasana dan tempat baru yang belum pernah aku injak sebelumnya.

“kemana A…”sapa kernet

“mau Ke papandayan A..” Jawab ku

“ouh, naik mobil yang itu A, warna biru..” sambil mengarahkan telunjuknya ke arah mobil yang tidak kalah tua dengan bus yang baru saja ku naikkan.

“makasih yah …”jawab ku

Kami berdua menghampiri mobil tua berwarna biru, dan mulai bernegoisasi harga yang pas. Akhirnya disepakati pada harga 7 ribu rupiah. Awalnya aku kira harga 7 ribu pereorang ini sudah cukup mahal, tetapi melihat jalur yang jauh dan trek yang berkelok-kelok melewati kota menuju desa, dan berhenti di depan masjid sebelum dilanjutkan dengan mobil selanjutnya ke Pos Pendakian, aku berani bilang, ini harga yang cukup murah.

langit sudah semakin gelap dan dingin mulai menyambut kedatanganku, aku lihat jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Turun dari angkot, tukang ojek menghampiri dan menawarkan jasa untuk mengantar ke pos pendakian dengan harga yang tidak masuk akal. Setelah berunding berdua, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Masjid malam ini, sekaligus menunggu barengan esok pagi, untuk mendapatkan harga murah dengan naik mobil bak sayur.

Dengan hanya beralaskan lantai, kami berdua dan ditemani dua orang kawan berasal dari Bandung yang sudah ada lebih dulu didalam masjid, berkenalan dan bercerita panjang lebar tentang petualangan yang pernah kami lewati semua, hingga sampai terdampar di papandayan ini. lama berbicara, Aku baru tahu kalau namanya Denny dan Novi, sepasang insan ini berasal dari bandung dan ingin merasakan medan Papandayan sama seperti kami. Pukul 11 malam, datang kembali rombongan 3 orang yang berasal dari bekasi, mereka adalah ucup, uma dan dony.

Dingin masih menyayat kulit dan matahari masih enggan terbit, dengan naik mobil bak terbuka kami bertujuh sepakat untuk memulai perjalanan ini. Kami tidak tahu rintangan apa yang didepan sana, dari jauh sudah terlihat batu terjal dan asap kawah yang membumbung tinggi. Dengan menutup hidung menggunakan slayer, kami melangkah dengan hati-hati melewati bebatuan terjal yang dibawahnya terlihat jelas kawah dengan kepulan asap mengumpul, kami tidak bisa membayangkan kalau kaki ini terpleset dan jatuh kebawah. Bau belerang begitu menyengat, bahkan sampai membuat pernafasan kami semua terganggu. Dengan langkah cepat dan setengah berlari, kami bertujuh ingin segera meninggalkan tempat ini secepatnya. Tidak disangka, ketika berlari kaki denny terpeleset dan terjatuh.

“Bang ……” teriak Novi

Dengan langkah cepat kami berlari menghampiri, dan syukur Alhamdulilah Denny masih menyangkut terjatuh di sela tanah dan tidak jatuh ke jurang. Dengan Doa yang tak henti-hentinya kami panjatkan, kami berharap denny tidak mengalami luka yang serius.

“lay loe liat kesamping ada jalan untuk kebawah gak, cup ajak ngobrol denny terus, agar dia gag shock, gw sama uma akan coba turun pelan-pelan dari sini” kata ku mencoba memberi aba-aba

“den…loe gak papa” tanya ku

“gak zay..gw baik-baik aja”..jawab denny

Aku dan uma berhasil turun dan menyambut tangan denny. Akhirnya denny berhasil naik keatas tanpa luka sedikitpun, rupanya Tuhan masih berkata lain tentang takdir ini. Setelah istirahat sejenak, perjalan kami lanjutkan. Kali ini perjalanan diperlambat, dengan mengawasi kanan-kiri dengan baik.

Melewati jalur kawah, rintangan kami selanjutnya harus melewati jalan yang terputus akibat tanah longsor. Dengan menyusuri ke jalur jurang dan rimbunan pohon yang tinggi, kami melewati aliran sungai dan bebatuan yang licin. Satu persatu tangan kami saling menyambut untuk menyebrangi sungai, dari aliran airnya yang sangat deras dan bebatuan yang licin.

Pukul 10 pagi kami tiba di Pondok Salada. Ditempat inilah kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan mengisi perut yang mulai keroncongan, dan berencana esok pagi naik ke Puncak. Keistimewaan dari Gunung Papandayan ini adanya Hutan mati yang terjadi akibat erupsi yang pernah terjadi beberapa tahun lalu, hutan mati ini sangat indah, pohon-pohon bekas terbakar dengan warna hitam angus terhampar luas, ditanah lapang berpasir dengan aroma belerang dan asap kawah yang memenuhi kawasan ini, membuat tempat ini menjadi sangat misterius dan mistis.

Malam sudah datang, disambut gerimis dan dingin yang menyapa kami. Dengan suasana seperti ini, paling enak berada dalam tenda dan berselimut sleeping bag, ditambah susu jahe hangat, dan tertidur pulas setelah itu.

Pagi menyapa dengan sinar matahari cerah dari balik dedaunan memasuki ke tenda kami. Kami memulai aktifitas di pagi ini dengan memasak sarapan sebelum berangkat ke puncak. Kami memang sengaja berangkat siang, karena cuaca yang tidak bisa diduga jika berangkat malam mengejar sunrise.

Kami berlima sepakat untuk naik dan meninggalkan peralatan di tenda, karena Novi dan denny tidak ikut naik ke puncak. Kami tidak mau ambil resiko, melihat jalur terjal bebatuan licin didepan sana, dengan membawa banyak peralatan. Bulay memimpin perjalanan didepan, dan diikuti ucup, uma, aku dan donny. Didepan langkah sudah terlihat batu besar licin dan jalur becek menghadang kami, pelan-pelan kami mendaki batu terjal, merangkak dan meloncat menjadi solusi untuk melewati. Dengan kondisi seperti ini, kekompakan dan saling membantu adalah kunci untuk melewatinya. 1 jam kami melewati jalan terjal berbatu, meloncat dan terpleset benar-benar mewarnai jalur terjal ini, hingga tiba dilembah Edelweis yang luas bernama tegal alun. Sungguh indah hamparan luas padang edelweis ini, namun sayangnya bunga belum mekar. Dengan kabut yang turun diatas bunga, dan cuaca tidak cerah, membuat tempat ini menjadi lukisan alam mahakarya terindah yang ada di Gunung Papandayan.

Tidak berlama-lama di tegal alun, kami melanjutkan perjalan menuju puncak. Belum adanya papan nama dan rute yang ditunjukkan untuk menuju puncak, benar-benar menyulitkan kami. Dengan menyisir jalur dan sesekali memberikan tanda dengan tali rafia di pohon agar tidak tersesat, kami telusuri hutan dan menyingkirkan ranting, walau dengan sesekali kita harus berdebat kemana jalur yang harus kami tuju. 1 jam berlalu, perjalanan kami perlambat dengan sesekali melihat jalur kedepan, hingga akhirnya kami berada ditempat tertinggi dari tempat yang paling sedikit ditumbuhi pohon-pohon, dan kami sepakat ini adalah puncak dari Gunung papandayan, aku adalah orang terakhir yang berhasil sampai dan langsung  mengucap rasa syukur, untuk mengakhiri pencarian puncak ini dan kembali ke pondok selada.

Gunung tinggi berselimut awan
Berkabut putih dan cerah
bersatu padu memupuk keindahan

Menghasilkan karya tentang Ciptaan Tuhan…

Sayangi dan jaga kelestarian alam, kalau bukan kita siapa lagi. Terima kasih untuk Gunung papandayan yang telah memberikan keindahan luar biasa, dan pengalaman yang tidak terlupakan. Terima kasih juga untuk teman-teman sesama pendaki, untuk Bulay, Ucup, Denny, Novi, Uma, Dony dan semua warga Garut. Aku berjanji jika ada kesempatan akan kembali kesana. Garut 15-17 November 2012.

3 thoughts on “Ada Cerita di Gunung Papandayan

  1. membantu banget info y,ane juga rencana mau ada kesitu kawan bis bulan ni,mungkin agan2 mau ikut lagi kan enak ada yang udah tau medan…

  2. Ping-balik: Gunung Papandayan – Jawa Barat | Wisata Gunung | Menyediakan Layanan : Open Trip | Private Trip | Company Tour | Family Package | Office Package | Prewed Package | Travel Package | City Tour, Outing & Outbond |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s