Borobudur di Pagi Hari

Patung Budha

Siapa tidak mengenal Candi Borobudur. Candi terbesar yang berada di Jawa Tengah ini sudah menjadi bagian dalam sejarah bangsa Indonesia, dari buku sejarah, disebutkan kalau Borobudur dibangun oleh Samaratungga, seorang raja kerajaan Mataram Kuno yang juga keturunan dari Wangsa Syailendra pada abad ke-8. Keberadaan Candi Borobudur ini pertama kali terungkap oleh Sir Thomas Stanford Rafles pada tahun 1814. Pada saat itu, Candi Borobudur ditemukan dalam kondisi hancur dan terpendam di dalam tanah. Candi yang terdiri dari 10 tingkat ini sebenarnya memiliki tinggi keseluruhan 42 meter.

Dari perjalanan sejarah tersebut juga menyebutkan kalau Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar pada abad ke-9. Menurut Prasasti Kayumwungan, terungkap bahwa Candi Borobudur selesai dibangun pada 26 Mei 824, atau hampir 100 tahun sejak mulai awal dibangun.

Dari banyak alasan tersebut, sejak SD aku sudah bermimpi ingin sekali menginjakkan kaki di Borobudur. Mimpi tersebut aku tulis kuat dalam imajinasiku, dan akhirnya akhir Oktober 2012 mimpi itu terwujud dengan mengunjunginya.

Berangkat dari Stasiun senen dengan menggunakan kereta ekonomi Progo jurusan Senen-Lempuyangan, kami berdua memulai petualangan ini untuk menggapai mimpi memegang patung Budha bertepatan dengan terbitnya matahari. Konon katanya, menyaksikan matahari terbit dari atap borobudur itu bisa menghipnotis kita dengan keindahannya bagai tempat di nirwana.

Berangkat pukul 21:00 WIB dari Stasiun Senen, kereta sampai di Stasiun lempuyangan pukul 07.00 WIB, ternyata kereta sekarang sudah tepat waktu sesuai jadwal yang tertera dalam tiket, sampai di Jogja rugi rasanya kalau tidak mengunjungi Malioboro dan mencoba pecel atau gudeg yang ada di depan pasar beringharjo, pecel yang dijual oleh kebanyakan kaum ibu ini begitu nikmat dan khas, bener sekali kata orang kalau pecel atau gudeg asli dari sumbernya lebih enak dari pada beli di kota lain.

Puas muter-muter di Jogja, Perjalanan kami dilanjutkan menuju terminal Jogja, dari sini perjalanan menggunakan bus Jurusan Magelang Sampai diterminal Magelang, perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 1 jam ini, akan mengantar kami sampai ke Terminal Magelang, kemudian Perjalanan kami lanjutkan dengan angkutan yang langsung menuju terminal Borobudur. Dari terminal Borobudur perjalanan sudah dekat, bisa dilanjutkan dengan jalan kaki atau naik ojek.

Sampai dikawasan Borobudur waktu sudah menjelang malam, keadaan sudah mulai sepi dan rasa dingin mulai menggerogoti tubuh kami untuk segera mencari kehangatan. Banyak penginapan yang terdapat di depan pintu masuk Borobudur ini, dengan memilih penginapan di Deket-deket Borobudur tentunya akan memudahkan kami untuk mengejar Sunrise esok pagi.

Tanya kanan – kiri ke penduduk yang sedang asyik ngerumpi sambil minum kopi dan merokok, kami bertanya dimana letak penginapan yang murah dan nyaman. Ternyata semua penginapan dikawasan ini rata-rata mematok harga mulai dari 100 ribu, dan itu artinya sangat pas sekali dengan kantong para Bacpacker seperti kami ini. Kami segera menuju penginapan dan ingin segera bergegas istirahat. Sebelum tidur, Alarm aku setel dengan harapan esok pagi senyum matahari tidak terlewati.

Berisik bunyi Alarm membangunkan mimpiku, setelah mandi dan shalat shubuh kami berlari mengejar waktu. Dengan langkah cepat akhirnya tiba di Pos masuk, tetapi rasa kecewa muncul setelah melihat pintu masuk masih tutup dan tertulis buka pukul 06:00 WIB. Bagaimana bisa melihat Sunrise jam 06.00 pagi.

Tidak puas dengan pengumuman itu, kami berputar menjelajahi semua pintu masuk dan berharap dapat keajaiban. Rasa senang muncul ketika tukang ojek memberitahukan bisa masuk dari pintu 7 melalui hotel manohara, tetapi rasa kecewa menjadi lebih berat ketika mendengar tiket yang dikenakan seharga 250 ribu perorang, tentu saja itu cukup memberatkan kantong Backpacker.

Gagal melihat sunrise kami memutuskan untuk menunggu pintu masuk dibuka pada pukul 06:00 Wib, dan tentu ini diluar skenario yang sudah aku rencanakan, kecewa tentu saja, keindahan memandang matahari terbit Borobudur tidak bisa kami nikmati, dan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berkantong tebal. Semoga ke depan pemerintah bisa kembali mempertimbangakan untuk membuka Borobudur pada waktu shubuh.

Ada keuntungan juga masuk Borobudur pagi-pagi sekali, karena cuaca yang masih segar dan tentu saja pengunjung  masih sedikit , memudahkan untuk memotret segala sudut dengan bebas. Dan dapat berekspresi tanpa rasa malu di depan Patung Budha.

Rasa takjub tentu saja ada, aku membayangakan siapa arsiteknya, dan bagaimana dulu nenek moyang kita membangun candi semegah ini, dengan menggunakan peralatan apa mereka membuatnya, sehingga batu dapat tersusun rapi dan ukiran patung dapat tercipta dengan detailnya, orang sekarang saja belum tentu bisa membuatnya.

Di setiap sudut bangunan borobudur akan terlihat pemandangan patung budha dnegan background gunung dan bukit-bukit yang indah, belum lagi sinar matahari yang belum panas dan langit yang masih biru, ditambah embun pagi yang masih membasahi stupa-stupa, semkain menjadikan suasana pagi di Borobudur menjadi luar biasa.

Sangat pantas jika Borobudur ini menjadi identitas bangsa Indonesia, dan kita sebagai anak bangsa harus menjaganya dan mulai melestarikan. Marilah kesadaran kita mulai dari diri sendiri untuk terus memajukan tempat wisata di Negeri ini, dan tidak membuang sampah sembarangan. Kalau bukan kita siapa lagi.

Borobudur dengan segala keindahan dan misteri bagaimana cara membuatnya, akan selalu hidup di otak kepala ku ini, dan aku berjanji jika ada kesempatan akan kembali lagi suatu hari nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s